BANK SYARIAH 1 BANK SYARIAH 2 Perbankan Syariah
BANK SYARIAH 1
BANK SYARIAH 2
Perbankan Syariah di Indonesia
Rekapitulasi Institusi Perbankan di Indonesia Oktober 2011 Perbankan Syariah di Indonesia
Pangsa pasar perbankan syariah saat ini telah mencapai 4, 9% dari total aset perbankan di Indonesia pertumbuhan rata-rata aset industri perbankan syariah, telah mencapai rata-rata 37, 4% dalam 5 tahun terakhir. Dengan total aset sekitar 21 miliar dolar AS. Industri perbankan syariah memiliki hampir 13 juta rekening simpanan, dan kurang lebih didukung dengan 3000 jaringan kantor di seluruh Indonesia. Perbankan Syariah di Indonesia sumber: OJK -2014
BANK SYARIAH adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasar kan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Bank Umum Syariah adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. PENGERTIAN BANK SYARIAH
KONSEP & SISTEM PERBANKAN SYARIAH PROSES PENYALURAN DANA PROSES PENGHIMPUNAN DANA MASYARAKAT PEMILIK DANA KONSEP PENGHIMPUNAN DANA : 1. AL WADIAH 2. MUDHARABAH MASYARAKAT PENGGUNA KONSEP PENYALURANDANA : 1. Kerjasama Bagi-Hasil Mudharabah Musyarakah 2. Jual-bali : Murabahah Salam & Salam Pararel Istishna & istishna Pararel 2. Prinsip sewa 3. Prinsip Pinjam Meminjam 4. Prinsip kegiatan berbasis imbalan Wakalah Kafalah Hiwaalah 5. Zakat
PENGHIMPUNAN DANA MASYARAKAT PENYALURAN DANA KEPADA MASYARAKAT JASA LALU LINTAS KEUANGAN A. TITIPAN (WADIAH DHAMANAH) B. BAGI HASIL (MUDHARABAH) 1. BAGI HASIL (MUDHARABAH, MUSYARAKAH) 2. JUAL-BELI (MURABAHAH, AL BAI BITHAMAN AJIL, ISTHISNA, SALAM) 3. SEWA (IJARAH, AL BAI’UT TAKJIRI) 4. PINJAMAN KEBAJIKAN (AL QARDHUL HASAN) 5. JAMINAN/GADAI (RAHN) 1. 2. 3. 4. 5. PERWAKILAN (WAKALAH) PENJAMIN (KAFALAH) PEMINDAHAN UTANG (HIWALAH) IMBALAN (JU’ALAH) SHARF PRINSIP DASAR OPERASIONAL
Sejarah singkat Internasional : Lembaga Keuangan Islam Mit Ghamr Bank (di Mesir) perintis pertama di tahun 1960 an sangat berarti bagi perkembangan sistim finansial dan ekonomi islam ; Islamic Development Bank didirikan pada tahun 1975 Mulai tahun 1970 an berdiri Bank-bank Islam di beberapa negara : Mesir, Sudan, Pakistan, Bangladesh, Turki, Malaysia dan Indonesia SEJARAH PERBANKAN SYARIAH
Pendirian Lembaga Keuangan/Bank Syariah di berbagai Negara : Uni Emirat Arab : th 1975 Dubai Islamic Bank ; Kuwait : th 1977 Kuwait Finance House Mesir : th 1978 Faisal Islamic Bank Pakistan : th 1979 sistim bunga dihapuskan Siprus : th 1983 Faisal Islamic Bank of Kibris (Cyprus) Malaysia : th 1983 Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB) Turki : th 1984 Daar al Maal Islam-Faisal Financial Institution Indonesia : th 1992 Bank Muamalat Indonesia PERBANKAN SYARIAH di BERBAGAI NEGARA
Latar belakang Pendirian. Perbankan Syariah di Indonesia Ummat islam memandang perlunya layanan perbankan yanglebih baik dan adil (Bank Islam = bebas riba) 19 -22 Agustus 1990 Lokakarya tentang Bank Islam di Cisarua, Bogor oleh MUI 22 -25 Agustus 1990 dalam Munas IV MUI disepakati untuk mendirikan Bank Islam November 1991 didirikan PT BMI Maret 1992 BMI mulai beroperasi Oktober 1994 BMI menjadi Bank Devisa Setelah beroperasinya BMI, mulai bertumbuhan BPRS di berbagai wilayah Indonesia Dengan UU No. 10 th 1998, maka pada tahun 1999 mulai beroperasi Bank Syariah baik berbentuk Unit Usaha Syariah (Bank IFI cabang Syariah) maupun Bank Umum (Bank Syariah Mandiri) PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA
Tahun 1999 dibentuk Dewan Syariah Nasional (DSN) oleh MUI Fungsi DSN untuk melaksanakan tugas memajukan ekonomi ummat islam Tugas DSN : mengkaji, merumuskan nilai dan prinsip hukum islam untuk menjadi pedoman transaksi/implementasi di lembaga keuangan syariah Perbankan Syariah di Indonesia
PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/ 3 /PBI/2009 TENTANG BANK UMUM SYARIAH 2. PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/ 15 /PBI/2009 TENTANG PERUBAHAN KEGIATAN USAHA BANK KONVENSIONAL MENJADI BANK SYARIAH 3. PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/10/PBI/2009 TENTANG UNIT USAHA SYARIAH 1. PBI PERBANKAN SYARIAH
Proses pendirian BUS kurang lebih = BUK Modal Rp. 1 T Bentuk Hukum harus PT Harus ada DPS PENDIRIAN BANK UMUM SYARIAH
Perbedaan Mendasar Antara Bank Syariah dengan Bank Konvensional Keterangan Bank Konvensional Bank Syariah Sistem yang digunakan dalam produk Berbasis bunga Non-bunga (bagi hasil, marjin, sewa, fee) Susunan Pengurus Hanya Dewan Komisaris dan Direksi Dewan Komisaris, Direksi & Dewan Pengawas Syariah Jenis pengikatan / akad Hanya satu jenis pengikatan Beragam jenis akad Hasil investasi setiap bulannya Tetap Berfluktuasi, sesuai kinerja bank Penyaluran dana Semua bisnis yang menguntungkan Hanya bisnis menguntungkan yang sesuai prinsip syariah Fungsi sosial Tidak ada Dapat berperan sebagai Lembaga Amil Zakat (LAZ)
PERBEDAAN BUNGA DAN BAGI HASIL Perihal Sistem Bagi Hasil Sistem Bunga Penentuan besarnya hasil. Sesudah berusaha, sesudah ada Sebelumnya. untungnya. Yang ditentukan sebelumnya. Menyepakati proporsi pembagian untuk masing pihak, misalnya 50: 50, 40: 60, 35: 65, dst. Bunga, besarnya nilai Rupiah. Jika terjadi kerugian. Ditanggung kedua nasabah dan lembaga. Ditanggung nasabah saja. Dasar perhitungan. Dari untung yang bakal Dari dan yang dipinjamkan, diperoleh, belum tentu besarnya. fixed, tetap. Titik perhatian usaha. Keberhasilan usaha menjadi Besarnya bunga yang harus perhatian bersama: nasabah dan dibayar nasabah atau pasti lembaga. diterima bank. Besarnya prosentase. Proporsi: (%) kali jumlah untung yang belum diketahui = belum diketahui. pihak, Pasti: (%) kali jumlah pinjaman yang telah diketahui pasti. 16
PBI 9/19/PBI/2007 tentang Pelaksanaan Prinsip Syariah dalam Kegiatan Penghimpunan Dana dan Penyaluran Dana serta Pelayanan Jasa Bank Syariah PBI 10/16/PBI/2008 tentang Perubahan PBI No. 9/19/PBI/2007 Pelaksanaan Prinsip Syariah dalam Kegiatan Penghimpunan Dana dan Penyaluran Dana serta Pelayanan Jasa Bank Syariah Prinsip Syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah sebagaimana dimaksud dalam Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Akad adalah kesepakatan tertulis antara Bank Syariah atau UUS dan pihak lain yang memuat adanya hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak sesuai dengan Prinsip Syariah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.
TUJUAN BANK SYARIAH 18 Mengarahkan kegiatan ekonomi umat untuk bermuamalat secara Islam. Menciptakan suatu keadilan di bidang ekonomi Meningkatkan kualitas hidup umat Menanggulangi masalah kemiskinan Menjaga stabilitas ekonomi dan moneter Menyelamatkan ketergantungan umat Islam terhadap bank non syariah
Penghimpunan Dana Wadiah Penyaluran Dana Piutang Jasa-jasa Perbankan Rahn - Giro - Qardh Wakalah - Tabungan - Murabahah Kafalah - Salam Hawalah - Istishna Sharf Mudharabah - Tabungan - Deposito Investasi - Mudharabah : a. Mutlaqah b. Muqayyadah - Musyarakah Sewa - Ijarah Muntahiyyah Bittamlik
20
21
PENGHIMPUNAN DANA Akad titipan dimana barang yang dititipkan dapat diambil sewaktu-waktu. Pihak yang menerima titipan dapat meminta jasa untuk keamanan dan pemeliharaan barang yang dititipkan. Ada 2 jenis wadiah : Wadiah Amanah → Pihak yang menerima titipan tidak diperkenankan mengambil manfaat dari barang yang dititipkan (contoh : safe deposit box). Wadiah Yaddhamanah → Pihak yang menerima titipan boleh mengambil manfaat dari barang yang dititipkan (contoh : giro & tabungan)
23
Akad usaha dua pihak dimana salah satunya memberikan modal (Shahibul Maal) sedangkan yang lainnya memberikan keahlian (Mudharib). Modal 100% berasal dari shahibul maal. Nisbah keuntungan disepakati di muka oleh kedua belah pihak, termasuk penentuan revenue atau profit sharing. Jika untung maka dibagi sesuai nisbah yang disepakati Jika rugi seluruhnya ditanggung oleh shahibul maal (jika kerugian bukan karena kelalaian mudharib). Modal dapat dikembalikan kepada shahibul maal secara berangsur-angsur.
Ada 2 jenis mudharabah : Mudharabah Mutlaqah → Mudharib diberikan kebebasan dalam mengelola dana shahibul maal (sepanjang memenuhi syariah Islam). Mudharabah Muqayyadah → Mudharib wajib mengelola dana sesuai keinginan shahibul maal, misalnya kepada proyek/nasabah tertentu. Dalam perbankan disebut dengan istilah chanelling (dalam hal ini, bank menerima fee).
26
PENYALURAN DANA 27 Use of Funds Prinsip Jual Beli (Bai, ) Sewa Beli (ijarah wa iqtina) Murabahah Salam Istishna Prinsip Bagi Hasil (Syirkah) Prinsip lain pembiayaan Musyarakah Mudharabah Mutlaqah Mudharabah Muqayyadah Qardh (Dana Talangan) Hiwalah (anjak piutang) Rahn (Gadai)
Akad jual-beli dimana bank bertindak selaku penjual dan nasabah selaku pembeli. Harga beli diketahui bersama dan tingkat keuntungan untuk bank disepakati di muka. Bank dapat meminta uang muka dari nasabah Dalam fiqih klasik, murabahah dilakukan secara tunai, dalam praktek perbankan, nasabah dapat membayar secara cicilan. Karena tidak membayar secara tunai, nasabah dapat diminta untuk memberikan jaminan. Apabila nasabah melunasi sebelum jatuh tempo, maka dapat diberikan diskon sesuai kesepakatan bersama.
Dalam fiqih klasik, penjual membeli barang langsung dari penjual pertama. Dalam perbankan syariah, umumnya aplikasinya sebagai berikut : Bank melakukan pemesanan barang kepada supplier, namun barang dikirim langsung kepada nasabah. Ini dilakukan karena bank tidak memiliki gudang penyimpanan barang. Nasabah membeli sendiri langsung dari supplier selaku wakil bank. Dalam hal ini bank melakukan akad wakalah dengan nasabah. Ilustrasi Murabahah. pptx
Skema Murabahah kredit investasi 1. Negosiasi 2. Akad Jual Beli BANK NASABAH 6. Bayar SUPPLIER PENJUAL 4. Kirim 5. Terima Barang dan Dokumen 30
Akad jual beli tangguh/pesanan dimana pembayaran dilakukan di muka dan barang diterima beberapa waktu kemudian. Dalam pembiayaan ini bank bertindak selaku pembeli sedangkan nasabah bertindak selaku penjual. Uang pembelian diberikan dimuka kepada nasabah. Barang yang dipesan harus memiliki spesifikasi dan jumlah satuan yang jelas dan standar. Biasanya diterapkan untuk pembiayaan produk pertanian (agrobased industries) atau produk 2 yang terstandarisir.
Bank dapat menjual barang tersebut sebelum jatuh tempo kepada pihak lain dengan cara yang sama (salam) tapi tidak boleh dikaitkan dengan Salam yang pertama. Produk ini disebut Salam Paralel dilarang dilakukan terhadap nasabah yang sama, karena dikhawatirkan terkena hukum riba. Apabila nasabah gagal (wan prestasi, default) menyerahkan barang yang dipesan, maka kewajiban terhadap bank tidak berubah. Artinya penyerahan barang harus tetap dilakukan, meskipun harus ditunda karena kegagalan. Ilustrasi Salam. pptx
Skema Bai Salam NASABAH PENJUAL 4. Kirim Pesanan 3. Kirim Dokumen PEMBELI 3. Bayar 2. Negosiasi pesanan dengan kriteria 1. Pemesanan barang nasabah bayar tunai BANK SYARIAH 33
Akad sewa-menyewa, di mana bank sebagai pemberi sewa (mu’jir) dan nasabah sebagai penyewa (musta’jir). Pada umumnya bank tidak memiliki barang, tapi menyewa dari pihak lain dan kemudian menyewakannya lagi kepada nasabah dengan nilai sewa yang lebih tinggi. Hal ini dibolehkan selama tidak ada kaitan antara akad sewa pertama dengan akad kedua. Sebagai mu’jir, bank bertanggungjawab atas pemeliharaan asset yang disewa.
Skema Ijarah wa Iqtina B. Milik PENJUAL/ SUPPLIER OBYEK SEWA NASABAH 3. Sewa Beli 2. Beli Objek Sewa A. Milik 1. Butuh obyek sewa BANK SYARIAH 35
Skema Mudharabah Mutlaqah PERJANJIAN BAGI HASIL BANK MUDHARIB KEAHLIAN/ KETRAMPILAN MODAL 100% PROYEK/USAHA Nisbah X% Nisbah Y% PEMBAGIAN KEUNTUNGAN MODAL 36
Akad istishna mirip dengan Salam. Perbedaannya terletak pada obyek yang dibiayai dan cara pembayaran. Pada Istishna obyek yang dibiayai bersifat ‘customized’, sehingga harus dibuat lebih dahulu. Pada Salam, obyek yang dibeli/dibiayai terstandarisasi. Pada Salam pembayaran oleh bank dibayar dimuka sekaligus, sedangkan pada istishna, pembayaran oleh bank dapat dicicil/ bertahap. Umumnya diterapkan pada produk jasa konstruksi, seperti pembiayaan pembangunan/renovasi rumah. Ilustrasi Istishna’. pptx
Skema Istishna’ Produsen Pilihan Bank NASABAH KONSUMEN (PEMBELI) PRODUSEN PEMBUAT Produsen Pilihan Nasabah NASABAH KONSUMEN (PEMBELI) 1. Pesan Wakil dan Pesan 1. Pesan Beli 2. Beli 3. Jual 2. Pesan & Beli 3. Jual Beli BANK PENJUAL PRODUSEN PEMBUAT BANK PENJUAL 38
Akad join venture, di mana bank dan nasabah sama-sama memberikan modal (patungan) dalam usaha yang akan dijalankan. Nisbah keuntungan disepakati di muka oleh kedua belah pihak, termasuk penentuan revenue atau profit sharing. Porsi nisbah boleh berbeda dengan porsi modal, asalkan disepakati bersama. Keuntungan dibagi sesuai nisbah yang disepakati. Kerugian ditanggung sesuai porsi modal masing-masing. Selaku partner bisnis, bank berhak ikut serta dalam pengaturan manajemen. Pembiayaan Musyarakah. pptx
Skema Musyarakah Nasabah Parsial: Asset Value Bank Syariah Parsial: Pembiayaan PROYEK/ USAHA KEUNTUNGAN Bagi Hasil Keuntungan Sesuai porsi kontribusi modal (Nisbah) 40
Akad sewa-menyewa, di mana penyewa (musta’jir) diberikan opsi untuk memiliki obyek yang disewanya (Financial Lease). Dimungkinkan apabila bank memiliki obyek yang disewakan. Ijarah Muntahiyyah Bittamlik pada dasarnya terdiri dari dua akad, yaitu akad sewa dan janji (opsi) pemilikan. Peralihan kepemilikan tidak bisa dilakukan apabila akad sewa belum berakhir. Selama kepemilikan belum beralih, bank bertanggungjawab atas pemeliharaan asset yang disewa. Ijarah Muntahia Bittamlik
Skema Ijarah B. Milik PENJUAL/ SUPPLIER OBYEK SEWA NASABAH 3. Sewa Beli 2. Beli Objek Sewa A. Milik 1. Butuh obyek sewa BANK SYARIAH 42
Rahn dalam syariah memiliki dua makna : Fiducia: penyerahan barang, tapi hanya dokumennya saja yang ditahan. Barang masih digunakan oleh pemilik. Gadai: penyerahan barang secara fisik, sehingga pemilik tidak dapat menggunakannya lagi. Umumnya dipergunakan sebagai pengikatan jaminan atas pinjaman yang diberikan.
Akad hutang-piutang uang, tanpa bunga. Umumnya digunakan untuk pinjaman kesejahteraan karyawan. Dapat pula disalurkan sebagai bagian dari fungsi sosial bank syariah (dalam hal ini penerima qardh harus merupakan mustahiq).
45
Wakalah (Perwakilan) Produk: Transfer, Inkaso, Debit Card, L/C Kafalah (Penjaminan) Produk: Bank Guarantee, L/C, Charge Card Hawalah (Pengalihan Piutang) Produk: Bill Discounting, Anjak Piutang, Post Dated Check Sharf (Pertukaran mata uang) Produk: Jual beli Valuta Asing. Dalam penyediaan jasa-jasa di atas, bank memperoleh ujrah (fee based income). Karena ujrah diperoleh dari pemanfaatan asset/teknologi milik bank sendiri, maka tidak termasuk yang dibagihasilkan.
47
48
TERIMA KASIH 49
- Slides: 49