BAB I PENDAHULUAN 1 1 LATAR BELAKANG DAN
BAB I PENDAHULUAN
1. 1. LATAR BELAKANG DAN PENGERTIAN UMUM/DEFINISI 1
1. 1. LATAR BELAKANG DAN PENGERTIAN UMUM/DEFINISI Dua fungsi utama proteksi, adalah : ü Mendeteksi adanya gangguan atau keadaan abnormal lainnya pada bagian sistem yang diamankannya. kan ü yang tidak mengalami gangguan dapat terus beroperasi. Lebur (Fuse). Jika dalam memilih Fuse, tepat sesuai kebutuhan, maka kedua fungsi tersebut di atas dapat dipenuhi. pengaman yang lebih lengkap (terdiri dari berbagai jenis alat pengaman), misalnya : perasa ng engaman, nya teksi elemen berfungsi Relay sebagai ü gangguan. ü listrik, untuk melepas bagian sistem yang terganggu. afo ü atau tegangan pada sirkit tenaga (sirkit primer) ke sirkit rele (sirkit sekunder). ü catu daya untuk rele (static relay) dan rele bantu. 2
masing yang lainnya dapat dihubungkan diputuskan dengan menggunakan alat pemutus tenaga (PMT). rele mempunyai kasawan pengamanan, yang berupa bagian dari sistem. Jika terjadi gangguan di dalamnnya, rele akan mendeteksi dan dengan bantuan PMT melepaskan seksi yang terganggu dari bagian sistem lainnya. Gambar kawasan pengamanan (zone of protection) : 3
Lanjutan 1. 3. tial Over Current elay. Over pembangkit tenaga listrik, dan lain-lain. (transmisi), dan lain-lain. Trafo pengaman cadangan jauh Bus B. utama Bus B 1 pengaman cadangan jauh saluran BC. pengaman cadangan jauh saluran CD pengaman jauh seksi berikutnya. 4
1. 4. PENGAMAN UTAMA DAN PENGAMAN CADANGAN kemungkinan komponen (alat) proteksi gagal bekerja. tenaga listrik harus dipasang pengaman utama, maka juga dilengkapi pengaman cadangan. gagal bekerja. Oleh karenanya pengaman cadangan selalu disertai dengan waktu tunda (time delay), untuk memberi kesempatan pada pengaman utama bekerja lebih dahulu. Jenis pengaman cadangan : Pengaman cadangan lokal (local back up). Pengaman cadangan jauh (remote back up). Letak (penempatan) : Pengaman cadangan lokal terletak di tempat yang sama dengan pengaman utamanya. Pengaman cadangan jauh terletak di seksi sebelah hulunya. 5
1. 5. KRITERIA SISTEM PROTEKSI Kepekaan (sensitivity) : ü Peralatan proteksi (rele) harus cukup peka dan mampu mendeteksi gangguan di kawasan pengamannya. ü sangat minim, peralatan pengaman (rele) harus mampu mendeteksi secara baik. Keandalan (reliability) : ü Dependability : • 6
Lanjutan 1. 5. Selektifitas (selectivity) : Peralatan proteksi (pengaman) harus cukup selektif dalam mengamankan sistem. Dapat memisahkan bagian sistem yang terganggu sekecil mungkin, yaitu hanya sub sistem yang terganggu saja yang memang menjadi kawasan pengaman utamanya. Rele harus mampu membedakan, apakah gangguan terletak di kawasan pengaman utamanya, dimana rele harus bekerja cepat, atau terletak di sub sistem berikutnya, dimana rele harus bekerja dengan waktu tunda atau tidak bekerja sama sekali. Kecepatan (speed) : Peralatan proteksi (pengaman) harus mampu memisahkan sub sistem yang mengalami gangguan secepat mungkin. Untuk menciptakan selektifitas yang baik, ada kemungkinan suatu pengaman terpaksa diberi waktu tunda (time delay), tetapi waktu tunda tersebut harus secepat mungkin. Dengan tingkat kecepatan yang baik, maka terjadinya kerusakan/ kerugian, dapat diperkecil. 7
BAB II PENGAMAN GENERATOR
2. 1. SKEMA GENERATOR KECIL (sistem isolated) Daya: 500 s/d 1000 k. VA tegangan 600 volt (maksimum) 1 - 51 V, backup overcurrent relay, pengendalian tegangan atau kontrol tegangan 1 -51 G, backup ground time overcurrent relay GENERATOR SEDANG (sistem isolated/ paralel) Daya: 500 s/d 12 500 k. VA tegangan 600 volt (maksimum) 3 - 51 V, backup overcurrent relay, pengendalian tegangan atau kontrol tegangan 1 -51 G, backup ground time overcurrent relay 1 - 87, differential relay 1 - 32, reserve power relay untuk pengendalian protection 1 – 40, impedance relay, untuk pengaman kehilangan medan 8
Lanjutan 2. 1. 3 - 51 V, backup overcurrent relay, pengendalian tegangan atau kontrol tegangan 1 - 51 G, backup ground time overcurrent relay 1 - 87, differential relay 1 - 32, reserve power relay untuk peng endalian protection 1 – 40, impedance relay, untuk pengaman kehilangan medan 1 – 46, Negative phase sequence over current relay untuk protection kondisi unbalanced 9
Lanjutan 2. 1. 3 - 51 V, backup overcurrent relay, pengendalian tegangan atau kontrol tegangan 1 -51 G, backup ground time overcurrent relay 1 - 87, differential relay 1 – 87 G, ground differential relay 1 - 32, reserve power relay untuk peng endalian protection 1 – 40, impedance relay, untuk pengaman kehilangan medan 1 – 46, Negative phase sequence over current relay untuk protection kondisi unbalanced. 1 – 49, temp relay untuk monitor belitan temp stator 1 – 64 F, generator field relay, hanya untuk mesin yg mempunyai medan supply slip rings 1 – 60, voltage balance relay 10
2. 2. PENGAMAN HUBUNG SINGKAT BUS GEN. CT CB Beban GEN. OCR MCCB Relai ini mengamankan generator dari beban lebih atau gangguan hubung singkat. PENGAMAN : OCR (51) -- untuk generator sedang dan besar MCCB - - untuk generator kecil 11
2. 3. PENGAMAN TEGANGAN KURANG BUS GEN. CB Beban PT GEN. UVR PENYEBAB: ü Generator mengalami beban lebih ü AVR generator mengalami kerusakan ü Gangguan hubung singkat di sistem AKIBAT: Dapat merusak belitan rotor PENGAMAN : UNDER VOLTAGE RELAY (27) 12
2. 4. PENGAMAN TEGANGAN LEBIH (OVER LOAD) BUS GEN. CB Beban PT GEN. OVR PENYEBAB: Lepas nya beban (Ppemb > P beban) AKIBAT: ü Generator mengalami kapasitif. ü AVR generator mengalami kerusakan bila berlanjut, merusak instalasi alat bantu di generator bisa rusak. ü Frekwensi naik > 50 Hz. PENGAMAN : DEVICE NUMBER OVER VOLTAGE RELAY : 59 13
2. 5. PENGAMAN STATOR KE TANAH BUS GEN. CB TRF Rn CT Beban GEN. OCR 51 N PENYEBAB: Terjadi kebocoran isolasi di stator, sehingga terjadi gangguan hubung Singkat fasa ketanah antara stator dan tanah AKIBAT: Kerusakan pada belitan stator PENGAMAN: PENGAMAN ARUS LEBIH (51 N) 14
2. 6. PENGAMAN DAYA (BALIK) PENGGERAK MULA BUS GEN. CT SISTEM GEN. PT 32 40 PENYEBAB: PRIME-MOVER DARI SALAH SATU GENERATOR RUSAK , MENGAKIBATKAN GENERATOR TIDAK BERPUTAR. AKIBAT: ADA PASOKAN LISTRIK DARI GENERATOR LAIN ATAU SISTEM SEHINGGA GENERATOR MENJADI MOTOR. PENGAMAN -- REVERSE POWER (32) 15
2. 7. PENGAMAN HILANG MEDAN (LOSS OF EXCITATION) BUS GEN. CT SISTEM GEN. PT 32 40 PENYEBAB: Hilangnya eksitasi AKIBAT: Daya reaktif balik dari sistem masuk ke generator, atau generator menyerap var sistem Memanaskan ujung belitan generator PENGAMAN -- LOSS OF EXCITATION (40) 16
2. 8. PENGAMAN TEMPERATUR GENERATOR GEN. 26 CB RTD PENYEBAB: pembebanan melebihi kapasitas generator kerusakan sistem pendingin AKIBAT: belitan generator bisa panas bisa merusak konduktor stator dan isolasi antara belitan ke inti PENGAMAN -- PENGAMAN TEMPERATUR (26) 17
2. 9. PENGAMAN OVER SPEED BUS GEN. MESIN. CB GEN. TRANSDUCER SPEED SENSOR PENYEBAB: gangguan pada sistem sehingga lepas beban governor tidak mampu kembalikan put. normal AKIBAT: over speed bisa terjadi vibrasi balancing pada put. tertentu bisa rusakkan bearing dan shaft frekwensi naik PENGAMAN : UNDER SPEED (81 – U) OVER SPEED (81 - O) 18
2. 10. PENGAMAN DIFFERENSIAL GENERATOR GEN. CB SET DIFERENSIAL GENERATOR PENYEBAB: GANGGUAN PADA BELITAN GENERATOR AKIBAT: KERUSAKAN ISOLASI BELITAN GENERATOR PENGAMAN: DIFFRENTIAL RELAY (87 G). 19
2. 11. PENGAMAN BEBEAN LEBIH (OVER LOAD RELAY) BUS GEN. CB CT BEBAN GEN. OLR PENYEBAB: Arus beban melebihi nominal dan bertahan lama AKIBAT: Memanaskan belitan generator. merusak konduktor dan isolasi belitan PENGAMAN : DEVICE NUMBER OVER LOAD RELAY : 49 20
2. 8. PENGAMAN TEMPERATUR GENERATOR GEN. CB NEG. SEQ FILTER OCR PENYEBAB: KETIDAK SEIMBANGAN ARUS FASA BEBAN AKIBAT: MEMANAS KAN ROTOR GENERATOR BILA BERTAHAN LAMA PENGAMAN : NEGATIVE SEQUENCE RELAY ( 46) 21
BAB III PENGAMAN TRANSFORMATOR TENAGA
3. 1. JENIS PENGAMAN Trafo tenaga diamankan dari berbagai macam gangguan, diantaranya dengan peralatan proteksi (sesuai SPLN 52 -1: 1983) Bagian Satu, C) : ü Relai Buchollz ü Relai Jansen ü Relai tangki tanah ü Relai suhu ü Relai diffrential ü Relai beban lebih ü Relai gangguan tanah terbatas ü Rele arus hubung tanah 22
3. 2. RELAY BUCHHOLZ KE CONSERVATOR KRAN TRIP PELAMPUNG 1 TUAS TRIP ALARM 2 TUAS ALARM TANGKI TRAFO Relai buchholz dipasang pada pipa dari maintank ke konservator ataupun dari OLTC ke konservator tergantung design trafonya apakah di kedua pipa tersebut dipasang relai bucholz. Gunanya: untuk mengamankan trafo dari gangguan internal trafo yang menimbulkan gas dimana gas tersebut timbul akibat adanya hubung singkat di dalam trafo atau akibat busur di dalam trafo. Cara kerja: yaitu gas yang timbul di dalam trafo akan mengalir melalui pipa dan besarnya tekanan gas ini akan mengerjakan relai dalam 2 tahap yaitu: ü Mengerjakan alarm (Bucholz 1 st) pada kontak bagian atas 1. ü Mengerjakan perintah trip ke PMT pada kontak bagian bawah 2. 23
Lanjutan 3. 2. Analisa gas yang terkumpul di dalam relai Bucholz ü H 2 dan C 2 H 2 menunjukkan adanya busur api pada minyak antara bagian-bagian konstruksi. ü H 2, C 2 H 2 dan CH 4 menunjukkan adanya busur api sehingga isolasi phenol terurai, misalnya terjadi gangguan pada sadapan. ü H 2, C 2 H 4 dan C 2 H 2 menunjukkan adanya pemanasan pada sambungan inti. H 2, C 2 H, CO 2 dan C 3 H 4 menunjukkan adanya pemanasan setempat pada lilitan inti. 24
3. 3. RELAY JANSEN Relai Jansen adalah relai untuk mengamankan transformator dari gangguan di dalam tap changer yang menimbulkan gas. Dipasang pada pipa yang menuju conservator. 25
3. 4. RELAY SUDDEN PRESSURE Tipe Membran Plat tipis yang didisain sedemikian rupa yang akan pecah bila menerima tekanan melebihi disainnya. Membran ini hanya sekali pakai sehingga bila pecah harus diganti baru. Indikator trip Reset Mekanis Pressure Relief Valve Suatu katup yang ditekan oleh sebuah pegas yang didisain sedemikian rupa sehingga apabila terjadi tekanan di dalam transformator melebihi tekanan pegas maka akan membuka dan membuang tekanan keluar bersama-sama sebagian minyak. Katup akan menutup kembali apabila tekanan di dalam transformator turun atau lebih kecil dari tekanan pegas. 26
3. 5. RELAY HV/ LV WINDING TEMPERATURE Urutan kerja relai suhu kumparan / winding ini dibagi 2 tahap: ü Mengerjakan alarm (Winding Temperature Alarm) ü Mengerjakan perintah trip ke PMT (Winding Temperature Trip) Urutan kerja relai suhu minyak / oil ini dibagi 2 tahap: ü Mengerjakan alarm (Oil Temperature Alarm). ü Mengerjakan perintah trip ke PMT (Oil Temperature Trip). 27
3. 6. PENGAMAN PANJAT TRAFO 28
3. 7. RELAY ARUS LEBIH (OVER CURRENT RELAY) indikator 29
3. 8. RELAY TANGKI TANAH Berfungsi untuk mengamankan trafo terhadap hubung singkat antara fasa dengan tangki trafo dan titik netral trafo yang ditanahkan. F 51 G Relai 51 G yang terpasang, mendeteksi arus gangguan dari tangki trafo ketanah, kalau terjadi kebocoran isolasi dari belitan tarafo ke tangki, arus yang mengalir ke tanah akan dideteksi relai arus lebih melalui CT. Relai akan mentripkan PMT di kedua sisi (TT dan TM). Jadi arus gangguan kembali kesistem melalui pembumian trafo. 30
3. 9. RESTRICTED EARTH FAULT (REF) Y 87 N 31
3. 10. PENGAMAN DIFFERENSIAL PRINSIPNYA : membandingkan arus yang masuk ke peralatan dengan arus yang keluar dari peralatan tersebut Fungsi: untuk mengamankan transformator terhadap gangguan hubung singkat yang terjadi didalam daerah pengaman transformator. IIN PERALATAN IOUT Cara Kerja: Membandingkan antara arus yang masuk dengan arus yang keluar 32
Lanjutan 3. 10. DIFFERENSIAL SEBAGAI PENGAMAN TRAFO (lanjutan) IP CTP TRAFO TENAGA IS CTS BEBAN i. S DIFF. RY DOT POLARITY i. P ü DALAM KEADAAN NORMAL ARAH IP DAN IS SEPERTI PADA GAMBAR ü DISISI SEKUNDER MASING-MASING CT, ARUS KELUAR DARI TERMINAL DOT, SEHINGGA ARAH ARUSNYA : ü KARENA IP SAMA BESAR IS TAPI ARAH BERLAWANAN MAKA DIFFERENSIAL RELAI TIDAK DILALIRI ARUS 33
Lanjutan 3. 10. DIFFERENSIAL SEBAGAI PENGAMAN TRAFO (lanjutan) IP CTP TRAFO TENAGA CTS BEBAN DOT POLARITY DIFF. RY i. P DALAM KEADAAN GANGGUAN ARAH IP SEPERTI PADA GAMBAR DAN HANYA IP DISISI SEKUNDER CTP, ARUS i. P KELUAR DARI TERMINAL DOT, DAN MENGERJAKAN DIFF RY PERHATIKAN : TERMINAL SEKUNDER CTP DAN CTS TERHUBUNG KE DIFF. RY DI FASA YANG BERLAWANAN ATAU BEDA SUDUT 180 o 34
3. 11. BAGAN SATU GARIS PENGAMAN TRANSFORMATOR BUS I 150 k. V BUS 2 150 k. V PMS BUS 1 PMS BUS 2 Trip PMT 150 k. V Meter CT 200/5 -5 -5 A OCR & EF TRAFO 20 MVA 150 / 20 k. V DIFFRENSIAL NGR 40 ohm CT CT 300 A/12 k. V 1000/5 300/5 A 10 Sec Z = 12, 4 5 REF EF CT 1000/5 -5 -5 A OCR & EF Meter Trip PMT 20 k. V PT BUS 20 k. V PMT 20 k. V Trip V 3 OCR & EF CT 20 k. V/110 V Meter PENYULANG 20 k. V V 3 KETERANGAN : OCR & EF : Over Current Relay & Earth Fault DIFF : Diffrencial Relay REF : Restricted Earth Fault Meter : Alat Ukur Amper, k. Wh, k. Varh, MW, MVar dll. 35
BAB IV CURRENT TRANSFORMER & POTENTIAL TRANSFORMER
4. 1. TRAFO INSTRUMEN (INTRUMENT TRANSFORMER) Adalah trafo yang mana dipergunakan bersama dengan peralatan lain seperti: relai proteksi, alat ukur atau rangkaian kontrol, yang dihubungkan ke arus bolak balik Trafo instrumen: current transformers dan voltage transformers. PERALATAN PENGUKURAN LISTRIK ü ü ü k. Wh meter k. VAr meter Ampere meter Volt meter Watt meter Cos meter : : : untuk untuk mengukur mengukur pemakaian energi listrik pemakaian daya reaktif arus tegangan pemakaian daya aktif power factor PERALATAN PROTEKSI ü ü Over Current Relay Ground Fault Relay Differential Relay Distance Relay 36
4. 2. TRAFO ARUS DEMI KEAMANAN & KETELITIAN, TRAFO ARUS UNTUK : ü PENGUKURAN • HARUS PUNYA DAERAH ARUS • HARUS JENUH BESAR, UNTUK KETELITIAN TINGGI PADA PENGUKURAN BEBAN NOMINAL PADA ARUS GANGGUAN YANG KEAMANAN ALAT UKUR PROTEKSI • HARUS PUNYA KETELITIAN / ERROR KECIL PADA DAERAH ARUS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT BESAR • TIDAK JENUH PADA ARUS GANGGUAN YANG BESAR, UNTUK KEANDALAN ALAT PROTEKSI 37
Lanjutan 4. 2. RANGKAIAN EKIVALEN CT IP P 1/K S 1/k P 2/L IS S 2/l A ü P 1/K masuknya arus primer & P 2/L keluaran arus primer ü S 1/k masuknya arus sekunder dari primer dan S 2/l keluaran arus sekunder ü Pembumian : pada S 2/l -- sudut IP dan IS = 00 pada S 1/k -- sudut IP dan IS = 1800 38
4. 3. KESALAHAN CURRENT TRANSFORMER Kesalahan arus Perbedaan arus yang masuk disisi primer dengan arus disisi sekunder % = [(Kn Is - Ip)/Ip] x 100% Kesalahan fasa Akibat pergeseran fasa antara arus sisi primer dengan arus sisi sekunder Composite Error c = 100/ Ip 100/T (Knis – ip)2 dt is dan ip merupakan nilai arus sesaat sisi sekunder dan sisi primer. 39
4. 4. SPESIFIKASI CLASS CT Sesuai IEC 60044 -1 spesifikasi class untuk CT: Kelas ketelitian +/- % kesalahan ratio arus pada % dari arus pengenal +/- % pergeseran fase pada % dari arus pengenal , menit (centiradians) 5 20 100 120 0, 1 0, 4 0, 2 0, 1 15 8 5 5 0, 2 0, 75 0, 35 0, 2 30 15 10 10 0, 5 1, 5 0, 75 0, 5 90 45 30 30 1, 0 3, 0 1, 5 1, 0 180 90 60 60 Kelas ketelitian +/- % kesalahan ratio arus pada % dari arus pengenal +/- % pergeseran fase pada % dari arus pengenal , menit (centiradians) 1 5 20 100 120 0, 2 S 0, 75 0, 35 0, 2 30 15 10 10 10 0, 5 S 1, 5 0, 75 0, 5 90 45 30 30 30 Kelas ketelitian +/- % kesalahan ratio arus pada % dari arus pengenal 50 100 3 3 3 5 5 5 40
4. 5. CLASS TRAFO UNTUK PENGUKURAN TRAFO ARUS MASING –MASING CLASS TRAFO ARUS UNTUK PENGUKURAN Untuk kebutuhan industri : CL 2 or CL 1 Untuk k. Wh meter di pelanggan : CL 0. 5 Untuk memperkecil kesalahan : CL 0. 2 S Untuk kebutuhan laboratorium : CL 0. 1 Untuk kebutuhan instrument : CL 3 or CL 5 Akurasi burden pengenal: 2, 5 VA; 10 VA; 30 VA 5 VA ; 15 VA 7, 5 VA ; 20 VA 41
4. 6. KURVA MAGNETISASI Kurva maknetisasi CT CT Metering ES Kurva CT untuk proteksi Knee point Kurva CT untuk pengukuran CT Proteksi Ie. Xct 42
4. 7. BEBERAPA KONSTRUKSI CT Sisi primer batang Sisi primer lilitan A 43
Lanjutan 4. 7. Trafo arus dengan inti besi Inti besi Trafo arus tanpa inti besi Rogowski coil 44
Lanjutan 4. 7. Type lingkaran/Wound primary Conventional Dead Tank CT 45
Lanjutan 4. 7. Type batang /Bar primary Inverted CT 46
Lanjutan 4. 7. Teriminal primer 1 belitan Pola (mould) Resin Belitan sekunder Untuk pengukuran Belitan sekunder Untuk Proteksi Teriminal sekunder P 1(C 1) Belitan sekunder Untuk Proteksi Teriminal sekunder P 2 (C 2) Gambar 8: dua belitan sekunder 1 S 1 1 S 2 2 S 1 2 S 2 3 S 1 3 S 2 4 S 1 4 S 2 4 Teriminal sekunder BILA PRIMER 2 BELITAN -- DIPILIH PADA LOWER RATIO 47
4. 8. TRAFO TEGANGAN Trafo tegangan: Instrumen trafo yang dipergunakan untuk memperkecil tegangan tinggi ke tegangan rendah , dipergunakan untuk pengukuran atau proteksi Accuracy classes sesuai IEC 60044 -2 48
Lanjutan 4. 8. Rangkaian ekivalen R S T Primer 20. 000/ 3 Sekunder 100/ 3 r s t Tegangan pengenal primer : k. V (150 k. V, 20 k. V atau 150 k. V/ 3 , 20 k. V/ 3) Tegangan pengenal sekunder: volt (110 V , 110 V atau 110 V/ 3 , 100 V/ 3) Untuk pengukuran tegangan jatuh disisi sekunder 0, 05 % s/d 0, 1 % x tegangan pengenal sekunder PT Tipe trafo tegangan: ü Inductive voltage transformers ü Capacitive voltage transformers 49
4. 9. KLASIFIKASI TRAFO TEGANGAN Jenis INDUKTIF (PT) Terdiri dari belitan Primer dan belitan sekunder, Belitan primer akan menginduksikannya ke belitan sekunder melalui core. Jenis KAPASITIF (CVT) Terdiri dari rangkaian kondensor yang berfungsi sebagai pembagi tegangan tinggi dari trafo pada tegangan menengah yang menginduksikan tegangan ke belitan sekunder melalui media capasitor. 50
4. 10. JENIS INDUKTIF TRAFO TEGANGAN Keterangan gambar: 1. Kertas/Isolasi Minyak Mineral/Quartz filling. 7 6 2. Belitan Primer: vernis ganda-isolasi kawat tembaga, tahan pada suhu tinggi. 5 3. Inti: bukan orientasi listrik baja memperkecil resiko resonansi besi 1 4. Belitan Sekunder 4 2 5. Isolator Keramik 3 8 6. Dehydrating Breather 7. Terminal Primer 8. Terminal Sekunder 51
4. 11. JENIS KAPASITIF TRAFO TEGANGAN 1 1). HV. T adalah terminal tegangan tinggi 5 2 3 7 2) kapasitor C 1 & C 2 pembagi tegangan (capacitive voltage divider) yang berfungsi sebagai pembagi tegangan tinggi untuk diubah oleh trafo tegangan menjadi tegangan pengukuran yang lebih rendah 3). L 0 adalah induktor penyesuai tegangan (medium voltage choke) yang berfungsi untuk mengatur/menyesuaikan supaya tidak terjadi pergeseran fasa antara tegangan masukan (vi) dengan tegangan keluaran (vo) pada frekuensi dasar. 4) Belitan primer 4 5) Isolator keramik 7) Terminal sekunder 52
4. 12. KESALAHAN TRAFO TEGANGAN Kesalahan rasio trafo tegangan Kesalahan besaran tegangan karena perbedaan rasio name plate dengan rasio sebenarnya dinyatakan dalam % = 100 (Kn Vs - Vp)/Vp Composite Error c = 100/ Vp 100/T (Knvs – vp)2 dt vs dan vp merupakan nilai tegangan sesaat sisi sekunder dan sisi primer. 53
BAB V SISTEM PEMBUMIAN PERALATAN & SISTEM
5. 1. PENGERTIAN UMUM Kegunaan: (pada sistem 3 fasa) ü Pengaman Sistem dari gangguan tanah ü sewaktu gangguan fasa-tanah ü Kegunaan: Sebagai pengaman bagi manusia dan peralatan instalasi jika terjadi kebocoran listrik pada peralatan. 54
5. 2. MACAM / JENIS PEMBUMIAN SISTEM Pentanahan melalui tahanan (resistance grounding). Pentanahan melalui reaktor (reactor grounding). Pentanahan langsung (effective grounding). berubah-ubah (resonant grounding) atau pentanahan dengan kumparan Petersen (Petersen Coil). 55
5. 3. PEMBUMIAN NETRAL LANGSUNG (SOLID GROUNDED) Netral Sistem dari transformator 3 fasa dengan hubungan Y yang dihubungkan langsung dengan tanah melalui elektroda cu. Tahanan pembumian harus rendah 0, 5 – 3 ohm. Transformator tenaga Netral ditanahkan langsung 56
Lanjutan 5. 3. Pemasangannya: Pada transformator tenaga yang dipasok dari sistem tegangan menengah (GI) atau PLTD kecil. Keuntungan : Tegangan phasa-phasa ü pada lebihterganggu tidak yang relatif kecil. ü dipermudah, sehingga letak gangguan cepat diketahui. ü Sederhana dan murah dari segi pemasangan Kerugian : ü terputusnya daya. ü menimbulkan kerusakan pada peralatan listrik yang dilaluinya. 57
Lanjutan 5. 3. ZL XT IGF Arus gangguan tanah dihitung dengan memasukkan Reaktansi XT dan Impedansi ZL Arus gangguan tanah dipakai untuk penyetelan Relai Arus Lebih gangguan tanah. 58
Lanjutan 5. 3. Pembebanan pada transformator tenaga di GI atau PLTD yang memasok kebeban: ü Bisa single phase (Transformator 1 fasa) ü Bisa three phase (Transformator 3 fasa) ü Beban tidak seimbang, kawat netral dialiri arus beban 59
5. 4. PEMBUMIAN NETRAL MELALUI TAHANAN Guna : Membatasi besar arus gangguan tanah tetapi relai gangguan tanah masih kerja baik Transformator tenaga Netral ditanahkan Melalui Tahanan 60
Lanjutan 5. 4. Pemasangannya : Pada transformator tenaga yang dipasok pada sistem tegangan 70 atau 150 k. V (GI) atau pada sistem PLTD kecil Tahanan pembumian (netral grounding resistance) yang terpasang di GI atau sistem PLTD : ü NGR dengan tahanan 12 ohm. ü NGR dengan tahanan 40 ohm. ü NGR dengan tahanan 500 ohm. Catatan: Nilai tahanan perlu dihitung yang didasarkan pada besarnya arus gangguan 1 fasa ketanah 61
Lanjutan 5. 4. Contoh NGR yang terpasang di Gardu Induk 40 ohm ü NGR (Neutral Grounding Resistance) Adalah tahanan yang dipasang antara titik neutral trafo dengan tanah dimana berfungsi untuk memperkecil arus gangguan tanah yang terjadi sehinggadiperlukan proteksi yang praktis dan tidak terlalu mahal karena karakteristik rele dipengaruhi oleh sistem pentanahan titik neutral. 62
Lanjutan 5. 4. ZL XT Rn IGF Arus gangguan tanah dihitung dengan memasukkan Tahanan 3 RN, Reaktansi XT dan Impedansi ZL Arus gangguan tanah dipakai untuk penyetelan Relai Arus Lebih gangguan tanah. 63
Lanjutan 5. 4. Keuntungan : ü Besar arus gangguan tanah dapat diperkecil ü Bahaya gradient voltage lebih kecil karena arus gangguan tanah kecil. ü Mengurangi kerusakan peralatan listrik akibat arus gangguan yang melaluinya. Kerugian : ü Timbulnya rugi-rugi daya pada tahanan pentanahan selama terjadinya gangguan fasa ke tanah. ü Karena arus gangguan ke tanah relatif kecil, kepekaan relai pengaman menjadi berkurang. 64
5. 5. PEMBUMIAN NETRAL MENGAMBANG (FLOATING) Titik Netral Transformator hubungan Y tidak dihubungkan ke tanah ü Untuk sistem kecil, arus gangguantanah tidak membuat kejutan power Guna : pada pembangkit ü Untuk sistem kecil, arus gangguantanah temporer bisa self clearing Transformator tenaga Netral tidak ditanahkan 65
Lanjutan 5. 5. ZL XT ICe IGF Saat terjadi Arus gangguan tanah timbul: ü Arus kapasitif jaringan ü Tidak tergantung lokasi gangguan, besarnya tetap ü Karenanya Relai gangguan tanah tidak selektif ü Arus Kapasitif gangguan tanah besar ? Arcing 66
Lanjutan 5. 5. Gangguan Fasa - tanah ü Tegangan Fasa sehat naik 3 kali. ü Gang. Permanen, Tegangan sentuh tdk bahaya. ü Kawat putus yang tidak menyentuh tanah bahaya bila disentuh manusia. ü Sistem kecil, gangguan tanah tidak dirasakan konsumen TR. Uraian vektor V dan I saat gangguan tanah ü Segitiga tegangan sistem tidak berubah. ü Magnitude & sudut tegangan fasa sehat berubah. ü Magnitude ICe besar gejala Arcing Ground. 67
Akibatnya : Lanjutan 5. 5. Udara yang belum kembali menjadi isolator kembali breakdown karena teg. fasa R yang naik s/d 3 x. Eph 68
Lanjutan 5. 5. Pembebanan : ü Tidak bisa single phase ü Harus three phase (Trafo 3 fasa) ü Beban tidak seimbang di TR di TM dialiri arus urutan negatif. ü Pengukuran Beban bisa gunakan meter 3 fasa 3 kawat. 69
5. 6. PEMBUMIAN NETRAL MELALUI PETERSON COIL kapasitif gangguan Arus yang tanah ü besar dikecilkan agar tidak terjadi Arcing Ground yang berbahaya Guna : ü Arus gangguan tanah temporer menjadi bisa self clearing kembali ü Dapat mengkompensir arus kapasitif 70
Lanjutan 5. 6. Transformator tenaga Netral ditanahkan Melalui Reaktor Tegangan Fasa- tanah Kondisi Normal ü Masih dapat terjaga seimbang, bila Ce seimbang. Kondisi gangguan tanah ü Teg. Netral-tanah naik, teg. Fasa-tanah naik 3. 71
Lanjutan 5. 6. ZL ICe XT IL ICe IL Bila terjadi arus gangguan tanah ü Arus kapasitif jaringan dikompensir oleh arus IL ü Tidak tergantung lokasi gangguan, besarnya tetap ü Relai gangguan tanah tidak selektif ü Arus gangguan tanah tidak membuat Arcing 72
Lanjutan 5. 6. Keuntungan : Arus gangguan dapat dibuat kecil sehingga tidak berbahaya bagi mahluk hidup. Kerusakan peralatan sistem dimana arus gangguan mengalir dapat dihindari. Sistem dapat terus beroperasi meskipun terjadi gangguan fasa ke tanah. Gejala busur api dapat dihilangkan. Kerugian : Rele gangguan tanah (ground fault relay) sukar dilaksanakan karena arus gangguan tanah relatif kecil. Tidak dapat menghilangkan gangguan fasa ke tanah yang menetap (permanen) pada sistem. Operasi kumparan Petersen harus selalu diawasi karena bila ada perubahan pada sistem, kumparan Petersen harus disetel ( tuning) kembali. 73
5. 7. GROUNDING EQUIPMENT (PEMBUMIAN PERALATAN) Pengertian Pembumian Peralatan ü Pembumian peralatan adalah pentanahan yang menghubungkan kerangka/ bagian dari peralatan listrik terhadap ground (tanah). ü Pembumian ini pada kerja normal tidak dilalui arus. 74
5. 8. PEMBUMIAN PERALATAN Tujuan pembumian peralatan adalah sebagai berikut : ü Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya pentanahan : ü Tahanan jenis tanah. ü Panjang elektroda pentanahan. ü Luas penampang elektroda pentanahan. 75
Lanjutan 5. 8. Tahanan Jenis Tanah JENIS TANAH TAHANAN JENIS TANAH (OHM M) TANAH RAWA 30 TANAH LIAT DAN TANAH LADANG 100 PASIR BASAH 200 KERIKIL BASAH 500 PASIR DAN KERIKIL KERING 1, 000 TANAH BERBATU 3, 000 R = Tahanan elektroda pentanahan (ohm) = Tahanan jenis tanah , ohm-cm besarnya sesuai tabel (karena tabel diatas dalam ohm-meter dirubah dahulu dalam ohm-cm) r = jari-jari elektroda pentanahan ( cm ) L = panjang elektroda pentanahan ( cm ) 76
Lanjutan 5. 8. Sirkulasi arus akibat adanya kebocoran pada peralatan listrik R Sekunder trafo gardu distribusi RL S T RN Netral Re 1 Re 2 Peralatan Listrik 77
Lanjutan 5. 8. Titik terjadi gangguan phasa - tanah Tegangan sentuh Tegangan langkah Bumi 20 m Bentuk tegangan antara tegangan elektroda dan referensi bumi, tegangan elektroda-bumi, teganganlangkah, tegangan sentuh. 78
Lanjutan 5. 8. Sistem pembumian peralatan di gardu induk dengan menghubungkan elektroda membujur dan melintang dibawah tanah yang disebut sistem mesh dengan tujuan untuk memperoleh tahanan tanah kecil (< 1 ohm). 79
BAB VI PENGAMAN TRANSMISI
6. 1. DISTANCE RELAY Relai penghantar yang prinsip kerjanya berdasarkan pengukuran impedansi penghantar. Relai ini mempunyai ketergantungan terhadap besarnya SIR dan keterbatasan sensitivitas untuk gangguan satu fasa ke tanah. Relai ini mempunyai beberapa karaktristik seperti mho, quadralateral, reaktans, adaptive mho dll. Sebagai unit proteksi relai ini dilengkapi dengan pola teleproteksi seperti putt, pott dan blocking. Jika tidak terdapat teleproteksi maka relai ini berupa step distance saja. 80
6. 2. SETTING DISTANCE RELAY Dapat menentukan arah letak gangguan Gangguan didepan relai harus bekerja Gangguan dibelakang relai tidak boleh bekerja Dapat menentukan letak gangguan ü Gangguan di dalam daerahnya relai harus bekerja Gangguan diluar derahnya relai tidak boleh bekerja Beban maksimum tidak boleh masuk jangkauan relai Dapat membedakan gangguan dan ayunan daya 81
6. 3. SETTING RELAY JARAK Zone 1 Karena adanya kesalahan pengukuran jarak akibat kesalahan CT, PT dan relainya sendiri, tidak mungkin menset relai sampai ujung saluran yang diamankan, yang lazim disebut Zone 1. A Zone 1= 80% ZAB F 21 Zone - 1 B F 21 = 80% x ZAB 82
Lanjutan 6. 3. Zone 2 Untuk mengamankan sisa yang tidak diamankan Zone 1, diaman- kan oleh Zone 2 dengan perlambatan waktu. Zone 2 juga sebagai pengaman rel ujung seksi yang diamankan bila tidak mempunyai proteksi rel. A Zone 1= 80% ZAB F 21 Zone - 2 C B F 21 = 80% x (ZAB + 80% x ZBC) 83
Lanjutan 6. 3. Zone 3 Sebagai pengamanan cadangan ditambah relai yang lazim disebut Zene 3, dalam hal ini harus dapat menjangkau ujung seksi berikutnya, waktunya diperlambat terhadap Zone 2 seksi berikutnya A Zone 1= 80% ZAB F 21 Zone - 3 C B D F 21 = 80% x (ZAB + 80% ( ZBC + 80% ZCD ) 84
6. 4. KARAKTERISTIK DISTANCE RELAY X ZL Karakteristik mho Z 1 Z 2 Z 3 R X ZL Z 3 Karakteristik Quadrilateral Z 2 Z 1 R 85
6. 5. RELAY DIFFERENTIAL SEBAGAI PENGAMAN SALURAN DISTRIBUSI ATAU TRANSMISI (KAWT PILOT) Daerah pengamanan Saluran distribusi/transmisi I 1 CT 1 I 2 CT 2 86
Lanjutan 6. 5. PRINSIP DASAR PROTEKSI RELAI DIFFERENTIAL Relai diferensial arus berdasarkan H. Khirchof, dimana arus yang masuk pada suatu titik, sama dengan arus yang keluar dari titik tersebut. I 1 I 2 I 1 = I 2 Yang dimaksud titik pada proteksi differential ialah daerah pengamannan, dalam hal ini dibatasi oleh 2 buah trafo arus. Daerah pengamanan I 1 I 2 CT 1 CT 2 87
6. 6. RELAI DIFFERENTIAL ARUS 88
Lanjutan 6. 6. I 2 I 1 PMT A CT 1 Saluran yg diproteksi PMT B CT 2 F 87 Gelombang arus yang saling dikirim 89
Lanjutan 6. 6. Diffrential untuk saluran diperlukan : ü Sarana komunikasi antara ujung saluran yg lazim disebut kawat pilot, dapat berupa : - Kawat tembaga. - Serat optik - Mikro wave ü Relai sejenis disetiap ujung saluran. ü Untuk ketiga fase hanya sebuah relai, supaya saluran komunikasi yg cukup sepasang cukup 1 pasang. ü Supervisi untuk mengontrol bahwa saluran komunikasi (pilot) baik/tidak terganggu. 90
Lanjutan 6. 6. ü Trafo isolasi, karena kemungkinan terjadi induksi tegangan dari saluran yang diamankan (khususnya pilot dengan kawat tembaga) ü Yg membatasi panjang saluran yang diamankan : - Saluran komunikasi dengan kawat dibatasi oleh adanya arus kapasitansi dan resistans kawat. - Saluran komunikasi dengan serat optik, sampai batas tidak perlu adanya penguat (repeater). 91
Lanjutan 6. 6. Prinsip operasi yang digunakan. ü Circulating current Prinsipnya dalam keadaan normal/tidak ada gangguan arus mengalir melalui CT di kedua ujung, kumparan penahan dan kawat pilot, kumparan kerja tidak dilalui arus. ü Opose Voltage Prinsipnya dalam keadaan normal/tidak ada gangguan arus mengalirhanya disetiap CT dan kumparan penahan disetiap sisinya, pada kawat pilot dan kumparan kerja tidak dilalui arus. 92
Lanjutan 6. 6. I 2 I 1 PMT A CT 1 Trafo penjumlah Saluran yg diproteksi s 2 p 2 PMT CT 2 p 2 s 2 id id s 1 p 1 F 87 Trafo isolasi B Trafo penjumlah p 1 s 1 F 87 5 k. V untuk JTM 15 k. V untuk JTT 93
6. 7. CIRCULATING CURRENT. Keadaan A i 1 I 1 normal PMT Kumparan kerja CT 1 id F 87 Saluran yg diproteksi Kawat pilot Kumparan penahan PMT i 2 I 2 B CT 1 id i 2 F 87 Pada keadaan normal kawat pilot dilalui arus dan kumparan kerja tidak dilalui arus. 94
6. 8. DIRECTIONAL COMPARISON RELAY A B 1 DIR T T & R 1 Signalling R & channel Directional comparison relay 95
6. 9. PENGAMAN CADANGAN TRANSMISI DENGAN RELAI ARUS LEBIH A B F 51 C t A B C Jangkauan relai sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya pembangkitan. 96
BAB VII PENGAMAN DISTRIBUSI 20 KV
7. 1. PENYEBAB GANGGUAN HUBUNG SINGKAT Pada SUTM AWAN PETIR RANTING POHON I (DARI SUMBER) 97
7. 2. PENGARUH ARUS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TERHADAP SISTEM TENAGA LISTRIK TRAFO DAYA 51 51 51 G 3 FASA 1 FASA-TANAH 51 N TEGANGAN DI BUS 20 KV TURUN PENGARUH TEGANGAN TURUN DIRASAKAN OLEH SEMUA FEEDER YANG TERSAMBUNG PADA BUS BERSAMA. SAAT TERJADI GANGGUAN HS BERPENGARUH PADA TRAFO TENAGA DAN GEN SAAT PMT TERBUKA TEGANGAN NAIK. GANGGUAN HS 1 FASA KETANAH DAPAT MENAIKAN TEG PADA FASA YANG SEHAT. 98
7. 3. HUBUNGAN PARALEL ANTAR PUSAT LISTRIK V < 20 k. V PLTD A V<20 k. V 2 4 1 6 3 PLTD B 5 SAAT TERJADI GANGGUAN DI SALAH SATU FEEDER, ADA SUMBANGAN ARUS DARI PLTD A DAN PLTD B KETITIK GANGGUAN. RELAI DI 3 DAN 5 AKAN TRIP RELAI DI 1 & 6 AKAN PICK UP JIKA SETELAN RELAI ANTARA KEDUA PUSAT LISTRIK TIDAK SESUAI, AKAN TERJADI BLACK OUT (SELURUH PUSAT LISTRIK PADAM) 99
7. 4. GANGGUAN HUBUNG SINGKAT IF PLTD A IF>> FCO Gangguan HS 20 k. V Saat terjadi gangguan hubung singkat dijaringan 20 k. V di salah satu feeder, Yang mempunyai FCO--- FCO trip. Saat FCO trip dalam tabung terjadi arcing yang waktunya melebihi waktu setting Yang dapat tripkan Rele di outgoing. 100
Lanjutan 7. 4. GANGGUAN YANG TERJADI: GANGGUAN 3 : bisa terjadi pada fasa R , S dan T terhubung singkat GANGGUAN 2 FASA : bisa terjadi antara • fasa R & S, • fasa T & S atau • R & T terhubung singkat GANGGUAN 2 FASA KE TANAH: bisa terjadi antara • fasa R & S, • fasa T & S ke tanah atau • fasa R & T ke tanah GANGGUAN 1 FASA KE TANAH: bisa terjadi antara • fasa R – ke tanah • fasa S - ke tanah atau • fasa T - ke tanah 101
7. 5. SISTEM PENGAMAN PADA SISTEM DISTRIBUSI A 1 1. 2. 3. 4. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 1 2 B C 2 3 4 D 5 6 Differential Relay Pengaman Utama Gen dll. Differential Relay Pengaman Utama Trafo dll. Over Current Relay Trafo sisi 150 KV Pengaman Cadangan Lokal Trafo Pengaman Cadangan Jauh Bus B. OCR dan GFR Trafo sisi 20 k. V Pengaman Utama Bus B 1 Pengaman Cadangan JAuh saluran BC. 5. OCR dan GFR di B 2 Pengaman Utama saluran BC Pengaman Cadanga Jauh saluran CD. 6. OCR dan GFR di C Pengaman Utama saluran CD Pengaman Cadangan Jauh seksi berikut. 102
7. 6. WIRING DIAGRAM OVER CURRENT RELAY & GROUND FAULT RELAY TRAFO 6, 3/20 KV PMT NGR TRAFO 6, 3/20 KV CT Jaringan distribusi OCR/GFR PMT CT ON NGR OCR OCR RELAY GFR 103
7. 7. CARA KERJA OCR PADA SAAT HUBUNG SINGKAT 3 FASA TRAFO 6, 3/20 KV PMT CT HUBUNG SINGKAT 3 FASA ON OFF NGR OCR OCR GFR ü ü Gangguan terjadi pada fasa R, S dan T. Arus gangguan hubung singkat mengalir di jaringan. Karena arus tersebut > dari ratio CT pada sekunder CT mengalir arus. Masuk ke OCR -- OCR memasok arus ke PMT-- PMT trip. 104
Lanjutan 7. 7. PMT TRAFO 6, 3/20 KV CT R HUBUNG SINGKAT 1 FASA 3 Io S T ON OFF NGR OCR OCR GFR Gangguan HS terjadi pada fasa T, arus mengalir masuk ke GFR - PMT trip 105
7. 8. PERALATAN PENGAMAN PADA JARINGAN 20 k. V Pengaman Gangguan Antar Fasa (OCR) Pengaman Gangguan Satu Fasa Ketanah (GFR) Cara kerja: CT Penyulang Gangguan CT mentransfer besaran primer ke besaran sekunder + - Rele detektor hanya bekerjadengan arus kecil akurat Perlu sumber Volt DC untuk tripping PMT Karakteristik bisa dipilih Definite, Inverse, Very-Inverse atau Extreemely Inverse. 106
7. 9. RELE ARUS LEBIH SEKUNDER Elektromekanis ü Sederhana Definite, (instant) • Rele definite hanya menyetel waktu • Saat terjadi gangguan hubung singkat arus dari CT masuk ke kumparan Rele. Setelan waktu • Selenoid yang dililit kumparan akan menjadi magnit dan kontak akan ditarik kebawah. • lamanya kontak menyentuh switch tergantung setting waktunya 107
Lanjutan 7. 9. ü Karakteristik Inverse • Rele inverse menyetel waktu & arus • Saat terjadi gangguan hubung singkat arus dari CT masuk ke kumparan Rele • Selenoid yang dililit kumparan akan mem bentuk , fluks terpotong oleh piringan, piringan berputar. • Lamanya kontak menyentuh switch tergantung setting waktunya 108
Lanjutan 7. 9. Elektrostatik CT I Rect Kontak Output Set timer Comp C Set I (arus) ü Arus gangguan hubung singkat masuk ke CT. ü Arus ini di searah kan di Rectifier dan arus searah di teruskan ke comp. ü Kapasitor digunakan menambah arus yang masuk coil tripping. 109
7. 10. KARAKTERISTIK RELAY Karakteristik Relay : - Definite - Invers - Instant t (detik) KARAKTERISTIK TUNDA WAKTU TERTENTU ( DEFINITE TIME ) I (ampere) Karakteristik definite time: bisa di setting arus besar setting waktu kecil 110
7. 11. KARAKTERISTIK KOMBINASI INSTANT DENGAN TUNDA WAKTU INVERSE t (detik) I (ampere) Digunakan untuk setting inverse dan moment 111
7. 12. KARAKTERISTIK INSTANT = MOMENT T (detik) I (ampere) PADA KARAKTERISTIK INSTANT MEMPUNYAI WAKTU MINIMUM: 40 s/d 80 milisecond DENGAN ARUS YANG BESAR Digunakan: untuk back up pada pengaman distribusi 112
7. 13. PERHITUNGAN ARUS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT JARINGAN RADIAL SINGLE ü KOORDINASI DENGAN O. C INVERSE SUMBER KIT TRAFO UNIT/ TRAFO DAYA 51 51 51 G 51 G 51 N ü PERHITUNGAN KOORDINASI SELALU DIMULAI DARI RELAI PALING HILIR, DAN BERGERAK KE HULU 113
Lanjutan 7. 13. UNTUK : ü GANGGUAN HUBUNG SINGKAT 3 FASA ü GANGGUAN HUBUNG SINGKAT 2 FASA KETANAH ü GANGGUAN HUBUNG SINGKAT SATU FASA KETANAH RUMUS DASAR YANG DIGUNAKAN ADALAH HUKUM OHM I= V Z I = ARUS GANGGUAN H. S V = TEGANGAN SUMBER Z = IMPEDANSI DARI SUMBER KETITIK GANGGUAN, IMPEDANSI EKIVALENT BIASANYA NILAI IMPEDANSI EKIVALENT INI YANG MEMBINGUNGKAN PARA PEMULA. 114
Lanjutan 7. 13. DARI KETIGA JENIS GANGGUAN, PERBEDAANNYA ADA PADA ü UNTUK GANGGUAN 3 FASA : IMPEDANSI YANG DIGUNAKAN ADALAH IMPEDANSI URUTAN POSITIF NILAI EKIVALEN Z 1 TEGANGANNYA ADALAH E FASA ü UNTUK GANGGUAN 2 FASA : IMPEDANSI YANG DIGUNAKAN ADALAH JUMLAH IMPEDANSI URUTAN POS. + URUTAN NEG. NILAI EKIVALEN Z 1 + Z 2 ü UNTUK GANGGUAN 2 FASA KETANAH : TEGANGANNYA ADALAH E FASA-FASA IMPEDANSI YANG DIGUNAKAN ADALAH JUMLAH IMPEDANSI URUTAN POS. + URUTAN NEG. + URUTAN NOL NILAI EKIVALEN Z 1 + Z 2 * Z 0 Z 2 + Z 0 ü UNTUK GANGGUAN 1 FASA KETANAH : IMPEDANSI YANG DIGUNAKAN ADALAH JUMLAH IMPEDANSI URUTAN POS. + URUTAN NEG. + URUTAN NOL NILAI EKIVALEN Z 1 + Z 2 + Z 0 TEGANGANNYA ADALAH E FASA 115
Lanjutan 7. 13. PERHITUNGAN ARUS GANGGUAN : ü GANGGUAN TIGA FASA ü GANGGUAN DUA FASA : RUMUSNYA : I = V Z V = TEGANGAN FASA - NETRAL Z = IMPEDANSI Z 1 ekivalen : RUMUSNYA : I = V Z V = TEGANGAN FASA - FASA Z = IMPEDANSI ( Z 1 + Z 2 ) ekivalen 116
2. 8. PENGAMAN TEMPERATUR GENERATOR ü GANGGUAN DUA FASA - KETANAH : RUMUSNYA : I = V V = TEGANGAN FASA - FASA Z Z = IMPEDANSI Z 1 + Z 2 * Z 0 ekivalen Z 2 + Z 0 ü GANGGUAN SATU FASA KETANAH : RUMUSNYA : I = V V = 3 x TEGANGAN FASA Z Z = IMPEDANSI ( Z + Z ) eki 1 2 0 117
7. 14. SETELAN Tms DAN WAKTU PADA RELAY INVERS t Faktor k tergantung pada kurva arus waktu, sebagai berikut: ü Nama kurva k ü IEC standard Inverse 0, 02 ü IEC very Inverse 1 ü IEC Extremely Inverse 2 ü IEEE standard Inverse 0. 02 ü IEEE Short Inverse 0. 02 ü IEEE Very Inverse 2 ü EEE inverse 2 ü IEEE Extremely Inverse 2 = Waktu trip (detik). Tms = Time multiple setting. Ifault = Besarnya arus gangguan Hub Singkat (amp) ISET Setelan over current relay (inverse) diambil arus gg hub singkat terbesar. Setelan ground fault relay (inverse) diambil arus gangguan hub singkat terkecil. = Besarnya arus setting sisi primer Setelan over current relay (Invers) diambil 1, 05 s/d 1, 1 x Ibeban Setelan ground fault relay (inverse) diambil 0, 06 s/d 0, 12 x arus gg hub singkat terkecil. 118
- Slides: 125