Angka Indeks Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini
Angka Indeks
Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, Mahasiswa diharapkan mampu untuk: 1. Menghitung harga relative. 2. Menghitung indeks harga agregat. 3. Menghitung indeks harga agregat tertimbang dari harga relatif. 4. Menghitung indeks kuantitas. 5. Menjelaskan beberapa indeks harga yang penting di Indonesia. 2
1. Harga Relatif • Harga relatif sangat membantu dalam memahami dan menafsirkan perubahan kondisi ekonomi dan bisnis dari waktu ke waktu. • Harga relatif menunjukkan bagaimana harga per unit saat ini untuk suatu barang tertentu dibandingkan dengan harga periode dasar per unit untuk barang yang sama. • Harga relatif menyatakan harga satuan pada setiap periode sebagai persentase harga unit pada periode dasar. • Periode dasar adalah titik awal yang diberikan dalam waktu. 3
1. Harga Relatif Tabel 1. Harga Bensin per Galon Tahun Harga Per galon ($) 1990 1. 30 2001 1. 42 1991 1. 10 2002 1. 34 1992 1. 09 2003 1. 56 1993 1. 07 2004 1. 85 1994 1. 08 2005 2. 27 1995 1. 11 2006 2. 57 1996 1. 22 2007 2. 80 1997 1. 20 2008 3. 25 1998 1. 03 2009 2. 35 1999 1. 14 2010 2. 78 2000 1. 48 2011 3. 52 4
1. Harga Relatif Tabel 2. Contoh Menghitung Harga Relatif Tahun Harga Relatif (Tahun Dasar 1990) 1990 (1. 30/1. 30)100 = 100 2001 (1. 42/1. 30)100 = 109. 2 1991 (1. 10/1. 30)100 = 84. 6 2002 (1. 34/1. 30)100 = 103. 1 1992 (1. 09/1. 30)100 = 83. 8 2003 (1. 56/1. 30)100 = 120. 0 1993 (1. 07/1. 30)100 = 82. 3 2004 (1. 85/1. 30)100 = 142. 3 1994 (1. 08/1. 30)100 = 83. 1 2005 (2. 27/1. 30)100 = 174. 6 1995 (1. 11/1. 30)100 = 85. 4 2006 (2. 57/1. 30)100 = 197. 7 1996 (1. 22/1. 30)100 = 93. 8 2007 (2. 80/1. 30)100 = 215. 4 1997 (1. 20/1. 30)100 =92. 3 2008 (3. 25/1. 30)100 = 250. 0 1998 (1. 03/1. 30)100 = 79. 2 2009 (2. 35/1. 30)100 = 180. 8 1999 (1. 14/1. 30)100 = 87. 7 2010 (2. 78/1. 30)100 = 213. 8 2000 (1. 48/1. 30)100 = 113. 8 2011 (3. 52/1. 30)100 = 270. 8 5
2. Indeks Harga Agregat • Indeks harga agregat dikembangkan untuk tujuan khusus mengukur perubahan gabungan dari sekelompok item. • Indeks harga agregat tidak tertimbang pada periode t, dilambangkan oleh It , dihitung dengan menggunakan rumus: dimana Pit = harga per unit untuk item i pada periode t Pi 0 = harga per unit untuk item i pada periode dasar 6
2. Indeks Harga Agregat Tabel 3. Data Untuk Indeks Beban Operasional Otomotif Item Harga per unit ($) Kuantitas 1990 2011 Bensin 1. 3 3. 52 1000 Minyak 2. 1 6. 25 15 Ban 130 145 2 Polis Asuransi 820 1, 040. 00 1 7
2. Indeks Harga Agregat • 8
2. Indeks Harga Agregat • 9
2. Indeks Harga Agregat • Item Bensin Minyak Ban Polis Asuransi Harga per unit ($) Kuantitas 1990 (Pi 0) 2011( Pit) Qi Pit*Qi 1. 3 3. 52 1000 3520 2. 1 6. 25 15 93. 75 130 145 2 290 820 1, 040. 00 1 1040 4943. 75 Pi 0*Qi 1300 31. 5 260 820 2411. 5 10
2. Indeks Harga Agregat Ada dua macam indeks harga tertimbang yang akan kita bahas yaitu indeks Laspeyres dan indeks Paasche. Yang membedakan keduanya adalah kuantitas yang digunakan sebagai factor penimbang. • Angka Indeks Laspeyres adalah angka indeks yang ditimbang dengan faktor penimbangnya kuantitas tahun dasar. • Angka Indeks Paasche adalah angka indeks yang ditimbang dengan faktor penimbangnya kuantitas tahun t. 11
2. Indeks Harga Agregat • Indeks Laspeyres (ditimbang dengan menggunakan kuantitas pada tahun dasar) Lebih luas digunakan dari pada Indeks Paasche • Indeks Paasche (ditimbang dengan menggunakan kuantitas pada tahun t ) 12
2. Indeks Harga Agregat Tabel 5. Harga dan Kuantitas Beer, Wine, Soft Drink Tahun 2008 dan 2011 Harga per Unit ($) Item 2008 2011 Beer 17. 5 20. 15 Wine 100 118 Soft drink 8 8. 8 Kuantitas (Botol) 2008 2011 35, 000 40, 000 5, 000 7, 000 60, 000 80, 000 Pertanyaan: • Hitung indeks harga tertimbang untuk 3 item dengan menggunakan metode Laspeyers • Hitung indeks harga tertimbang untuk 3 item dengan menggunakan metode Paasche 13
2. Indeks Harga Agregat Tabel 6. Indeks Harga Agregat Tertimbang Dengan Metode Laspeyres Harga per Unit ($) Kuantitas (cases) Item 2008 (P 0) 2011 (Pt) 2008 (Q 0) 2011 (Qt) Pit*Qi 0 Pi 0*Qi 0 Beer 17. 5 20. 15 35, 000 40, 000 705, 250 612, 500 Wine 100 118 5, 000 7, 000 590, 000 500, 000 Soft drink 8 8. 8 60, 000 80, 000 528, 000 480, 000 1, 823, 250 1, 592, 500 14
2. Indeks Harga Agregat Tabel 7. Indeks Harga Agregat Tertimbang Dengan Metode Paasche Harga per Unit ($) Kuantitas (cases) Item 2008 (P 0) 2011 (Pt) 2008 (Q 0) 2011 (Qt) Pit*Qit Pi 0*Qit Beer 17. 5 20. 15 35, 000 40, 000 806, 000 700, 000 Wine 100 118 5, 000 7, 000 826, 000 700, 000 Soft drink 8 8. 8 60, 000 80, 000 704, 000 640, 000 2, 336, 000 2, 040, 000 15
3. Indeks Harga Agregat dari Harga Relatif • Rumus yang digunakan untuk menghitung indeks harga agregat dari harga relatif adalah sebagai berikut: 16
3. Indeks Harga Agregat dari Harga Relatif Tabel 8. Harga Relatif Beban Operasional Otomotif Harga per unit ($) Item Bensin Minyak Ban Polis Asuransi 1990 2011 Penggunaan per tahun (Pt) Harga Relatif (Pt/P 0)100 (P 0) 1. 30 3. 52 270. 8 1000 2. 10 6. 25 297. 6 15 130. 00 145. 00 111. 5 2 820. 00 1040. 00 126. 8 1 17
3. Indeks Harga Agregat dari Harga Relatif Tabel 9. Indeks Beban Operasional Otomotif (1990– 2011) Didasarkan pada Harga Relatif Tertimbang Item Harga Relatif Harga Dasar ($) Kuantitas Bobot Harga Relatif Ditimbang (Pit/Pi 0)100 Pi 0 Qi wi = Pi 0 Qi (Pit/Pi 0)100 wi Bensin 270. 8 1. 30 1000 1300. 00 352, 040. 00 Minyak Ban Polis Asuransi 297. 6 2. 10 15 31. 50 9, 374. 40 111. 5 130. 00 2 260. 00 28, 990. 00 126. 8 820. 00 103, 976. 00 2411. 50 494, 380. 40 18
4. Indeks Kuantitas • Indeks yang digunakan untuk mengukur perubahan tingkat kuantitas dari waktu ke waktu disebut indeks kuantitas. • Jumlah relatif menunjukkan bagaimana tingkat kuantitas saat ini untuk satu barang dibandingkan dengan tingkat kuantitas periode dasar untuk barang yang sama. • Indeks kuantitas agregat tertimbang dihitung dengan cara yang hampir sama dengan indeks harga agregat tertimbang. 19
4. Indeks Kuantitas • Kuantitas Relatif (Mengacu ke Tabel 5, halaman 13) Tabel 10. Kuantitas Relatif Beer, Wine dan Soft Drink pada Tahun 2011 Item Beer Wine Soft drink Kuantitas (cases) 2008 (Q 0) 2011 (Qt) 35, 000 40, 000 5, 000 7, 000 60, 000 80, 000 Kuantitas Relatif 40000/35000 (100)= 114. 29 7000/5000 (100) = 140. 00 80000/60000 (100) = 133. 33 20
4. Indeks Kuantitas • 21
4. Indeks Kuantitas Indeks kuantitas tertimbang dengan harga periode dasar dan indeks kuantitas tertimbang dengan harga periode t • Tertimbang (Harga Periode Dasar) • Tertimbang (Harga Periode t) 22
4. Indeks Kuantitas • Item Beer Wine Soft drink Harga per Unit ($) 2008 (P 0) 2011 (Pt) 17. 5 20. 15 100 118 8 8. 8 Kuantitas (cases) 2008 (Q 0) 2011 (Qt) 35, 000 40, 000 5, 000 7, 000 60, 000 80, 000 Qi 0*Pi 0 Qit*Pi 0 612, 500 700, 000 500, 000 700, 000 480, 000 640, 000 1, 592, 500 2, 040, 000 23
4. Indeks Kuantitas • Item Beer Wine Soft drink Harga per Unit ($) 2008 (P 0) 2011 (Pt) 17. 5 20. 15 100 118 8 8. 8 Kuantitas (cases) 2008 (Q 0) 2011 (Qt) Qi 0*Pit Qit*Pit 35, 000 40, 000 705, 250 806, 000 5, 000 7, 000 590, 000 826, 000 60, 000 80, 000 528, 000 704, 000 1, 823, 250 2, 336, 000 24
5. Beberapa Indeks Harga Penting di Indonesia 1. Indeks Harga Konsumen (IHK) – Indeks yang menghitung rata-rata perubahan harga dari suatu paket barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga dalam kurun waktu tertentu – IHK merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat inflasi. – Perubahan IHK dari waktu ke waktu menggambarkan tingkat kenaikan (inflasi) atau tingkat penurunan (deflasi) dari barang dan jasa. – Dalam menyusun IHK, data harga konsumen diperoleh dari 82 kota, mencakup antara 225 - 462 barang dan jasa yang dikelompokkan ke dalam tujuh kelompok pengeluaran yaitu: bahan makanan; makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau; perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar; sandang; kesehatan; pendidikan, rekreasi dan olah raga; serta transpor, komunikasi dan jasa keuangan. – Mulai Januari 2014, IHK disajikan dengan menggunakan tahun dasar 2012=100 dan mencakup 82 kota yang terdiri dari 33 ibu kota propinsi dan 49 kota-kota besar di seluruh Indonesia. 25
5. Beberapa Indeks Harga Penting di Indonesia 2. Indeks Harga Produsen (IHP) – Indeks Harga Produsen (IHP) adalah angka indeks yang menggambarkan tingkat perubahan harga ditingkat produsen. – Pengguna data dapat memanfaatkan perkembangan harga produsen sebagai indikator dini harga grosir maupun harga eceran. Selain itu juga dapat digunakan untuk membantu penyusunan neraca ekonomi (PDB/PDRB), distribusi barang, margin perdagangan, dan sebagainya. – Angka persentase perubahan indeks harga produsen yang menggambarkan kenaikan (inflasi) atau penurunan (deflasi) harga barang maupun jasa secara umum ditingkat produsen. – IHP dihitung menggunakan formula Laspeyres yang dimodifikasi, dengan tahun dasar 2010=100. – Mulai tahun 2014, pengumpulan data Survei Harga Produsen mengalami perluasan cakupan yaitu Sektor Akomodasi, Makanan dan Minuman. – Pengumpulan data dilakukan setiap bulan, tanggal 1 -15 di 18 provinsi (Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, NTB, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Papua). – Sejak triwulan I-2015, penyajian data IHP (2010=100) selain terdiri dari IHP Gabungan yang meliputi Sektor Pertanian, Pertambangan dan Penggalian, dan Industri Pengolahan, juga disajikan IHP Sektor Akomodasi, Makanan dan Minuman. 26
5. Beberapa Indeks Harga Penting di Indonesia 3. Indeks Harga Saham yang di Bursa Efek Indonesi)BEI: a. b. c. d. IHSG adalah Indeks yang mengukur pergerakan semua saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Indeks LQ 45 adalah indeks yang mengukur performa harga dari 45 saham-saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik. Indeks Saham Syariah Indonesia/ Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) adalah indeks yang mengukur performa harga seluruh saham yang dinyatakan sebagai saham syariah sesuai dengan Daftar Efek Syariah (DES) yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keungan (OJK). Jakarta Islamic Index (JII) adalah indeks yang mengukur performa harga dari 30 saham-saham syariah yang memiliki kinerja keuangan yang baik dan likuiditas transaksi yang tinggi. 27
5. Beberapa Indeks Harga Penting di Indonesia 4. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) – – merupakan gambaran perkembangan harga pada level pedagang besar (grosir). Perkembangan harga yang dicakup adalah perkembangan harga pada Sektor Pertanian, Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor Industri, Kelompok Barang Ekspor, dan Kelompok Barang Impor pada level nasional. Data yang disajikan dalam publikasi angka IHPB Indonesia tahun 2018 dengan tahun dasar 2010 (2010=100). Data IHPB diperoleh dari hasil Survei Harga Perdagangan Besar bulanan pada tahun 2018 di 34 provinsi seluruh Indonesia. 28
Pertimbangan Dalam Penyusunan Indeks Harga • • When the class of items is very large, a representative group (usually not Pemilihan Barang a random sample) must be used. – Ketika kelompok barang sangat besar, • The group of items in the aggregate index must be periodically reviewed and revised if it is not representative of the class of items in mind. perwakilan kelompok (biasanya bukan sampel acak) harus digunakan. – Kelompok barang dalam indeks agregat harus ditinjau dan direvisi secara berkala. 29
Pertimbangan Dalam Penyusunan Indeks Harga • Pemilihan Periode Dasar – Sebagai aturan, periode dasar tidak boleh terlalu jauh dari periode saat ini. – Misalnya, IHK dengan periode dasar 1945 akan sulit bagi sebagian besar individu untuk memahami, karena ketidak familieran dengan kondisi di 1945. – Periode dasar untuk sebagian besar indeks disesuaikan secara berkala ke periode waktu yang lebih baru. – Periode dasar IHK diubah menjadi 2012=100 mulai Januari 2014, IHK sebelumnya menggunakan tahun dasar 2007=100 30
Pertimbangan Dalam Penyusunan Indeks Harga • Perubahan Kualitas – Asumsi dasar dari indeks harga adalah bahwa harga dari waktu ke waktu diidentifikasi untuk barang yang sama. – Apakah produk yang telah mengalami perubahan kualitas utama produk yang sama ? – Peningkatan kualitas suatu barang dapat atau mungkin tidak menghasilkan kenaikan harga, dan penurunan kualitas mungkin atau mungkin tidak menghasilkan penurunan harga. 31
REFERENSI • Anderson, David R. , Dennis J. Sweeney, Thomas A. Williams, Jeffrey D. Camm dan James J. Cohran. (2014). Statistics For Business and Economics, Twelve edition (12 th). Cengage Learning. Chapter 20 32
End of Chapter 20 33
- Slides: 33